
Di era digital yang terus berkembang, ekspektasi nasabah terhadap layanan keuangan berubah pesat. Generasi Milenial dan Gen Z, yang terbiasa dengan teknologi, menginginkan transparansi, personalisasi, dan aksesibilitas yang lebih baik. Oleh karena itu, penasihat keuangan perlu mengadopsi pendekatan holistik untuk memberikan solusi yang lebih relevan dan sesuai dengan nilai-nilai nasabah.
Menurut Prishella Tjiuranda, anggota MDRT selama 9 tahun, pergeseran ekspektasi ini terlihat jelas dalam cara generasi muda mengelola keuangan mereka. “Berdasarkan pengalaman saya, Milenial dan Gen Z lebih fokus pada tujuan jangka pendek dan cenderung memilih produk keuangan berdasarkan harga. Sementara itu, generasi sebelumnya lebih memperhatikan manfaat jangka panjang dari produk keuangan yang mereka pilih.”
Salah satu faktor utama yang membentuk pola pikir finansial generasi Milenial dan Gen Z adalah akses mudah mereka terhadap informasi. Edukasi finansial kini tersedia dalam berbagai format, mulai dari video singkat di media sosial, podcast, hingga artikel mendalam di platform edukasi keuangan.
"Selain itu, banyaknya influencer di bidang finansial yang membagikan teori-teori keuangan justru membantu kami sebagai penasihat keuangan. Tugas kami bukan hanya menjelaskan teori, tetapi juga membimbing nasabah melalui praktik nyata. Saya sendiri menerapkan experience-based storytelling di media sosial, di mana saya membagikan pengalaman pribadi serta kisah nyata nasabah yang telah saya bantu," cerita Tjiuranda. “Setiap orang menyukai cerita, dan setiap pengalaman hidup mengajarkan sesuatu yang berharga untuk dibagikan. Storytelling bisa menjadi berkat bagi orang lain dan bisa dilakukan kapan saja, di mana saja—baik melalui media sosial, berbicara di berbagai acara, maupun dalam percakapan sehari-hari. Dengan cara ini, pemahaman menjadi lebih mendalam, karena tidak ada cara belajar yang lebih efektif daripada melihat bukti nyata dari pengalaman yang sudah ada.”
Tjiuranda menganggap AI sebagai alat yang sangat berguna dalam pekerjaannya. Ia menggunakan ChatGPT untuk mencari referensi konten dengan cepat, merencanakan langkah selanjutnya, dan tetap mengikuti perkembangan pasar. Saat menghadapi kesulitan dalam menyusun pembaruan pasar, ia juga memanfaatkan ChatGPT untuk mengumpulkan data terkini. Selain itu, Tjiuranda menyadari pentingnya branding di media sosial. Melalui pendekatan ini, ia berhasil menarik nasabah dari seluruh Indonesia, termasuk dari orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal.
Oleh karena itu, kombinasi antara AI, branding, dan storytelling menjadi sangat efektif baginya. Meskipun teknologi terus berkembang, Tjiuranda tetap percaya bahwa peran tenaga profesional tidak bisa tergantikan, terutama dalam menganalisis kebutuhan nasabah dan memastikan kepentingan mereka tetap menjadi prioritas utama. Sebagai penasihat keuangan, ia meyakini bahwa alih-alih bersaing dengan AI, para penasihat seharusnya memanfaatkan teknologi sebagai asisten yang dapat membantu mereka bekerja lebih efisien.
Sementara itu, Junmico, anggota MDRT selama 3 tahun, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam memberikan nasihat keuangan. Menurutnya, perubahan pola pikir nasabah muda bukan hanya tentang bagaimana mereka berinvestasi, tapi juga bagaimana investasi tersebut bisa sejalan dengan nilai-nilai yang mereka anut.
"Saat ini, sekitar 60-70% nasabah saya berasal dari generasi Milenial, sementara Gen Z masih sekitar 5%. Milenial cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan dan memilih investasi karena banyak yang sudah berkeluarga. Sementara itu, Gen Z lebih fokus mencari keuntungan cepat dan cenderung mengutamakan gaya hidup. Namun, bagi Gen Z yang termasuk dalam 'sandwich generation,' kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan menjadi prioritas utama,” jelas Junmico.
Strategi utama Junmico dalam memberikan nasihat keuangan adalah mengajak nasabah untuk berdiskusi mengenai pengelolaan keuangan, terutama dalam hal proteksi pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Dengan pendekatan yang tepat sesuai karakter masing-masing individu, edukasi keuangan menjadi lebih efektif. “Saya mencoba berbagai instrumen keuangan, mulai dari saham, obligasi, forex, kripto, emas, spot, hingga leverage trading. Semakin banyak yang saya pelajari, semakin luas wawasan saya tentang arah industri keuangan di masa mendatang.” Junmico juga menekankan pentingnya konsistensi dalam gaya hidup sebagai bagian dari branding seorang penasihat keuangan. Prinsip ‘Walk the talk’ adalah pegangan utama baginya, di mana karakter dan tindakannya sehari-hari mencerminkan komitmen terhadap perencanaan keuangan.
Meskipun teknologi telah memudahkan akses terhadap berbagai alat perencanaan keuangan dan menyediakan banyak sumber belajar mandiri, Junmico tetap percaya bahwa pertemuan tatap muka adalah metode terbaik dalam memberikan nasihat keuangan. Interaksi langsung memungkinkan komunikasi yang lebih mendalam, membangun kepercayaan antara penasihat dan nasabah, serta memastikan setiap solusi keuangan yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan tujuan finansial mereka.
“Dengan menggabungkan teknologi, transparansi, dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan nasabah, penasihat keuangan dapat terus berkembang dan memberikan dampak lebih besar bagi masyarakat. Keberhasilan di masa lalu dan masa depan memiliki pendekatan yang berbeda, maka dari itu penting untuk mengikuti tren dan terus meningkatkan diri,” tutup Junmico.
Contact: MDRTeditorial@teamlewis.com